| Perubahan Yang Mengubah |
| Written by NZ | |
| Tuesday, 27 January 2009 | |
Unus, Masnah, Maemunah, Udis, bukan hanya empat bersaudara anak-anak miskin biasa. Unus dan adik-adiknya adalah potret anak-anak yatim negeri ini. Unus bersandar di betis ibunya saat adik-adiknya saling berebut ayunan karung bekas yang diikat tali lusuh ke dahan meranggas di depan rumah mereka. Sebenarnya lebih tepat disebut bilik daripada sebuah rumah. Beratap potongan asbes dan genteng tak utuh disana-sini.Sebagian dindingnya sudah mulai rubuh. Pada usianya yang kedelapan Unus masih belum merasakan bangku sekolah. Robiah, ibu Unus yang jauh tampak lebih tua dari usia sebenarnya, hanya menatap kosong saat bertutur tentang kelangsungan hidup, makan, biaya berobat dan pendidikan keempat anak-anak yatimnya. Memang Unus tak sendiri menelan kegetiran negeri ini. Berbagai kalangan merasakan tahun 2005 sebagai tahun yang penuh kesulitan. Terutama pada semester kedua saat keadaan memburuk sedemikian cepat. Inflasi tinggi pada kisaran 18.38 persen, adalah inflasi tertinggi sejak masa krisis. BBM (Bahan Bakar Minyak) naik, suku bunga bank melonjak, daya beli masyarakat turun, lalu Indonesia negeri yang kaya minyak dan emas seolah dapat kutukan. Provinsi yang kaya minyak justru memiliki penduduk miskin yang tinggi. Dengan eksploitasi 1.1 juta barrel per hari, Riau memasok 70 % minyak Indonesia, namun dalam daftar kemiskinan Riau menempati urutan ke-13 provinsi termiskin. Demikian pula NAD (Nanggaro Aceh Darussalam) dengan kekayaan minyak dan gasnya, Papua dengan timbunan emasnya. Lalu kekayaan alam itu hilang dengan alasan globalisasi dan privatisasi. Tekanan Globalisasi telah memangkas peran pemerintah dunia ketiga untuk campur tangan dalam ekonomi. Kekayaan negara dianjur paksa untuk diprivatisasi. Sebuah kemasan profesionalitas yang sejatinya adalah wajah bengis kolonial. Entah mengapa sumber rejeki yang meruah di negeri ini ’dibiarkan’ hilang melalui high design of the new colonialism sampai Unus dan adik-adiknya berlara-lara tak kebagian. Sangat ironis melihat kondisi keseharian Unus dan adik-adiknya sementara pada saat yang bersamaan saudara sebangsanya menghabiskan 900 juta untuk modifikasi sebuah sedan ceper sembari menunggu indent produk terbaru Ferrari F430 sampai 20 bulan. Unus makin geram melihat anak tetangganya yang gembil belepotan makan fast food. Unus minder karena tak pandai mengeja saat teman-temannya ngomongin komik Harry Potter. Unus menyantap deraan kesulitan hari demi hari. Airmata bening mata mungilnya menjadi teman setia dalam ratapan doa. Kapan kiranya datang perubahan di negeri ini? ”Change is only evidence of life” kata esayist Evelyn Waugh. Perubahan adalah satu-satunya tanda kehidupan, tepat sekali. Perubahan seringkali terjadi tanpa kita sadari, bahkan pada saat tubuh berada dalam kondisi koma sekalipun sel-sel tubuh terus bergetar dalam koreografi perubahan. Tetes air mata jutaan Unus adalah spirit getar perubahan di negeri ini. Seyogyanya mampu menggerakkan perubahan yang benar-benar mengubah. Hanya saja seringkali kita tidak menyadari adanya harapan perubahan, bahkan mendiamkannya dan tak meresponsnya sama sekali. Sebuah sensitifitas buruk rupa yang akhirnya menjadi tradisi. Membenahi tradisi buruk memang bukan perkara mudah. Apalagi tradisi buruk yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Orang-orang lama selalu mengatakan bahwa pada dasarnya manusia enggan untuk berubah (resist to change). Sejatinya manusia itu mau dan bisa berubah namun enggan atau bahkan tak mau ’dirubah’. Yang perlu diingat bahwa ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum sampai kaum tersebut mau bekerja keras melakukan perubahan kondisinya sendiri” (1). Oleh sebab itu perubahan tidak dapat bergulir begitu saja namun membutuhkan manajemen dan kepemimpinan yang tepat. Kata Bill Clinton, ”Cara terbaik menciptakan perubahan adalah dengan menjadikan perubahan itu sebagai teman, bukan sebagai penjahat atau musuh”. Hanya kepemimpinan kuatlah yang bisa menciptakan perubahan di negeri ini. Karenanya tak melulu materi, Unus lebih membutuhkan teladan dan kepeloporan pemimpin yang tegas dan adil. Pemimpin yang mampu menjadikan tekanan kesulitan sebagai guru yang paling baik bagi anak-anak jaman. Struggle, pembelajar terbaik dalam menghadapi setiap kesulitan dan kegagalan, namun memiliki RED BLOOD (darah merah pemberani). Berani mempertaruhkan segalanya, kalau perlu sampai titik darah terakhir melawan kolonial baru dan pemiskinan bangsa. Sembari menuntun tangan mungil Unus dalam mencari tahu firman-Nya bahwa ”..Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan..”(2)
Untuk Unus dan adik-adiknya di Sela Awi Selamat Tahun Baru 2006 M dan Tahun Baru 1427 H
(1) AQ : Ar Ra’d : 11 (2)AQ: Alam Nasyrah : 6 |
|
| Last Updated ( Tuesday, 27 January 2009 ) |