Utama
Profil
Artikel
Berita
Hikmah
Wawancara
Administrator
Kalender
< July 2010 >
S M T W T F S
27 28 29 30 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
< August 2010 >
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31 1 2 3 4
Login Donatur
Pencarian
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday10
mod_vvisit_counterYesterday23
mod_vvisit_counterThis week89
mod_vvisit_counterThis month386
mod_vvisit_counterAll10461
Utama
Negeri Para Pelupa PDF Print E-mail
Written by NZ   
Tuesday, 27 January 2009

 Seorang perempuan tua dengan tangan bergetar tengah  berusaha menyelimuti suaminya yang tergolek lemah dan kedinginan di bawah sebuah tenda darurat korban gempa.  Kerut tua di dahi perempuan berusia lebih dari delapan puluhan itu seperti sebuah rekaman kegetiran hidup yang menemaninya hari demi hari. Gempa dengan goncangan 6,2  skala Richter telah meluluh lantakkan rumah Mbah Solikah, demikian perempuan tua itu biasa disapa. Termasuk bangunan sekolah dan rumah-rumah tetangganya di desa Srihandono, Kecamatan Pundong, Bantul, Yogyakarta.


Di dalam tenda darurat lusuh seadanya, Mbah Solikah dan suaminya bernaung dari dingin malam berde­sakan dengan anak-anaknya dan 2 menan­tu serta 7 orang cucu­nya.  Sese­kali gempa susulan kecil mem­buat tegang pa­­­ra peng­hu­ni ten­da yang ma­­sih me­nyi­m­­pan tra­uma pas­ca gem­­pa.  Namun wa­­jah Mbah So­li­kah selalu tampak tenang.  Seraya mendekap hangat cucu-cucunya yang kedinginan, Mbah yang berusia lebih dari delapan puluh tahun itu terus mengajarkan ketegaran hidup.  Dipangkuannya ada sebuah kitab yang sampulnya sudah rusak diterpa gempa dan kehujanan kemarin sore.  Kitab yang masih lembab itu berbahasa jawa dengan tulisan arab, sekilas terlihat judulnya  Infiruu Ilallah” (Berlarilah kepada Allah).  Nyuwun sewu Mbah ajarkan saya kitab ini”, pinta saya sambil mendekati Mbah Solikah.  Dengan bibir bergetar dan tertatih-tatih Mbah Solikah  nampak bersemangat membacakan kitab yang diletakkan di atas pangkuannya.  Lembar demi lembar kitab itu dibukanya, ”Ngger..fafirruu ilallah.. (Cucu­ku..datanglah.. berlarilah kepada Allah)..” pesan Mbah Solikah.  Penggalan syairnya menggam­barkan betapa dahsyatnya jika Sang Maha Perkasa menghancurkan jagat raya.  Tanpa dapat disangka sebelumnya, Allah SWT akan menurunkan musibah kepada siapa yang dikehendakiNYA.  Agar manusia segera mengambil pelajaran dan tak terjerembab lebih dalam ke jurang kesombongan.  Badan ringkih Mbah Solikah bergetar sambil terus mengobarkan keikhlasan dan kesabaran di dalam menghadapi musibah.

Tiba-tiba sorot teduh mata Mbah Solikah berkaca-kaca.  Air matanya lalu menggenang dan tumpah di sela-sela keriput tua tubuhnya.  Seakan-akan  ia berkata,  ”Bangsa kita telah berubah menjadi bangsa pelupa..”. 

Mudah melupakan musibah yang telah terjadi tanpa bersungguh-sungguh mengevaluasi penyebab musibah.  Cepat lupa pada musibah beruntun yang menerjang anak negeri.  Lupa pada terjangan tsunami di Aceh,Nias, dan Sumut yang melumat lebih dari seratus ribu nyawa.  Lupa pada longsor di Banjarnegara, longsor timbunan sampah di Leuwi Gajah dan banjir bandang lumpur di Sukorambi Jember yang telah menimbun ratusan nyawa.  Lupa pada gunung Merapi yang senantiasa aktif lalu kubah lava  Geger Boyonya runtuh terbelah mengge­lontorkan awan panas wedhus gembel. Menimbun Dusun Kali Adem, Kinahreja , Cangkringan , Sleman dengan  lava pijar hingga kedalaman  4 meter.  Menghanguskan mereka yang berlari di bunker perlindungan sekalipun. 

Bangsa kita lupa pada sabda Nabi saw. : ”Pada akhir (zaman) umat ini akan mengalami bencana ditenggelamkan ke tanah, diubah rupanya, dan dilanda berbagai fitnah”.  Lalu Aisyah bertanya,”Ya Rasulullah apakah kami akan turut binasa sedang diantara kami masih terdapat orang-orang shaleh?”  Jawab Rasul,”Ya jika kejahatan dibiarkan merajalela di mana-mana” )1

Bangsa kita lupa telah menipu Tuhannya.  Lupa bahwa bencana ini berasal dari Tuhannya lalu berlaku klenik dan takhayul.  Bangsa ini lupa telah menelanjangi aurat anak-anak perawannya dengan alasan trend mode.  Lupa telah menghina para perempuan bangsanya sendiri lalu menjual mereka ke luar negeri dengan sangat murah.  Lupa menyediakan tempat dan fasilitas hidup yang layak sehingga rakyat terpaksa tinggal di daerah rawan bencana.  Lupa telah merusak 101,79 juta hektar hutan Indonesia (dari 143,7 juta hutan tropis, tahun 1970) )2 hingga berbuah petaka.  Lupa menegakkan hukum pada para pejabat sebaliknya keras menghukum dhuafa yang kelaparan.  Lupa menyediakan bangku pendidikan berkualitas pada jutaan anak-anak dhuafa.  Lupa bershadaqah, berzakat dan berinfaq untuk kejayaan ekonomi umat.

Rasululah saw. berwasiat, ”Wahai Ali, bershada­qahlah! Karena sesungguhnya bencana itu akan turun sebelum shadaqah terlambat.  Jika engkau segera bershadaqah itu akan menolak qadha di udara (sebelum turun ke bumi)”  

Nasihat Mbah Solikah terus mengalir.  Nasehatnya bersahaja namun sangat mendalam dan sarat makna.  Menggetarkan kejujuran di dalam dada mengalahkan sorak sorai euphoria piala Dunia yang tengah melanda pengungsi di tenda sebelah.  Semoga tidak menambah Lupa.

”Sing sabar ngger.. lan fafirru Ilallah”, senyum sepuh Mbah Solikah terasa sejuk menyirami hati. 

Inggih Mbah... Matur nuwun sanget wejanganipun”

 

Kagem Mbah Solikah dan Bangsaku

bangkitlah...

)1  H.R. Imam At Tirmidzi

)2Eksekutif No. 304/Desember 2004: “Emas Hijau di Ujung Waktu”

Last Updated ( Tuesday, 27 January 2009 )
 
Next >
Polls
MENGAPA ANDA MENGAKSES WEB KAMI?
 
Mengapa anda berzakat ke sebuah LAZ tertentu?
 
aksi_4