Utama
Profil
Artikel
Berita
Hikmah
Wawancara
Administrator
Kalender
< March 2010 >
S M T W T F S
28 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3
Login Donatur
Pencarian
Jumlah Pengunjung
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday4
mod_vvisit_counterYesterday9
mod_vvisit_counterThis week37
mod_vvisit_counterThis month82
mod_vvisit_counterAll9164
Utama
Pelaut Ulung PDF Print E-mail
Written by NZ   
Tuesday, 27 January 2009
 seorang menepuk bahu dari belakang dengan keras, lalu memelukku erat-erat..Belum hilang rasa kaget lalu kata-katanya meluncur deras, “Waduh sudah lupa sama temen ya..hebat kamu sekarang..mobilmu bagus, Enaknya kalau sudah sukses..”. Ruslan teman bermain waktu kecil tiba-tiba muncul mengagetkan. Setengah tak percaya melihat sosok sahabat lama tak jumpa.

Wajahnya yang kini tirus dengan mata kuyu berdiri mematung, segera kuhambur tubuh Ruslan.  “Lu’…aku kangen banget sama kamu..“, kupeluk tubuh kurusnya erat-erat lalu tak terasa mata ini berkaca-kaca..  Lu’ adalah nama panggilan kecil Ruslan. Selain karena kami cadel, panggilan Lu’ juga ledekan untuk hidung Ruslan yang terlalu mancung menurut kami anak-anak kampung berhidung pesek polinesia. 

“Minum cao1 yuk..”,  Ruslan mengajak minum minuman kesukaan kami waktu kecil. Kamipun berangkulan menuju kedai mencari minuman klangenan.  Dua gelas penuh cao terasa nikmat sambil berbagi cerita, lalu tak terasa nostalgia kanak-kanak telah membuat kami tergelak kegelian. Terbayang dua bocah kecil yang berlarian telanjang kaki bersemangat menunggang kuda dari pelepah pisang.  Mengendap-endap di balik pagar kembang sepatu menunggui senyum malu-malu si Nancy Reagan-ku, anak peranakan tetangga sebelah.  Terbayang seperti Ronald Reagan yang kepincut miss Nancy dalam film The Iron Horse. Memang kuakui talenta Ronald Reagan pada film-film western di TVRI minggu siang tahun 70an telah membuatku dan Ruslan sempat gila koboi.

“Hidupku gagal ..”, tiba-tiba Ruslan menggumam sendiri. Menyentak lamunan nostalgia kanak-kanakku. “Usahaku gagal, daganganku bangkrut, istriku uring-uringan, hutangku menumpuk, anak-anakku tak bisa bayar sekolah..”, keluhnya. Ia seka cepat-cepat air mata yang tak kuasa ditahannya. Wajah tirusnya makin layu. Begitu sering kegagalan menerpa sehingga Ruslan merasa kegagalan adalah garis tangannya. Perlahan kudekap bahu kurus Ruslan. Bahu itu dahulu pernah bidang.

Kata-kata Ruslan terus mengiang. “Aku gagal...”.  Kata gagal memang seringkali menjadi momok menakutkan, seperti tinta busuk yang menodai citra kesuksesan. Gagal seakan noda dosa yang tak boleh dilakukan orang yang sukses. Kegagalan dan kesuksesan dipisah berjauhan dilarang bersua di satu kamar, tak boleh bersatu dalam sebuah senyawa.  Apalagi ketika tolak ukur kesuksesan adalah status sosial, jabatan, dan kenyamanan harta. Ketika keberadaan kita tak dihitung orang, tak punya jabatan penting dan harta sangat kekurangan lalu minder berkepanjangan. Berandai-andai pindah ke kamar kesuksesan orang lain nan gemerlap.

Kalla…Jangan sekali-kali manusia menilai kemuliaan jabatan dan kenikmatan dunia sebagai standar kesuksesan semata...lalu menganggap rezeki terbatas sebagai penghinaan dari Tuhannya. Ketahuilah bahwa keterbatasan rezeki, kemulian jabatan dan kenikmatan dunia adalah ujian dari Tuhannya 2.

Setiap penciptaan manusia pasti disertai dengan masalah-masalah yang mengitarinya3. Orang yang mendapatkan ujian sesungguhnya adalah benih orang hebat di masa mendatang. Sebagaimana pepatah mengatakan “Pelaut ulung tak pernah lahir dari laut yang tenang”.  Begitu ujian datang, dan orang lain melihat kita gagal,  saat itulah pertanda kita akan naik kelas. 

Orang sering mentertawai dan menghukumi anak perawan sebagai orang gagal karena telur mata sapi yang digorengnya gosong bolong. Sejatinya yang gosong adalah telur mata sapinya, bukan sang perawan penggoreng telur. Telur mata sapi boleh gosong dan gagal  namun pada saat bersamaan sang anak perawan sedang sukses mendapatkan ilmu learning by doing menggoreng anti gosong. Kelak suaminya akan bahagia karena telur mata sapinya menawan. Maka bersyukurlah ketika Tuhan menempa kita pada sekolah “kegagalan” demi meraih ilmu kesuksesan.

“Lu’… kesuksesan seseorang tak bisa dinilai tam­pilannya..”, kucoba menenangkan Ruslan sambil meneguk cao terakhir. Kita sering sibuk menakar sukses dan gagal dari tampilan materi yang fana dan menipu. Lebih sigap menghormati tamu parlente dengan mobil mewah dari pada paman dari kampung dengan pakaian lusuh. Padahal boleh jadi tamu parlente kita menyewa mobilnya dari sebuah rent car, atau bahkan dia seorang sales mobil. Sementara mungkin saja paman kita baru dapat rejeki dari kampung dan ingin membagi-bagikan travel cheque untuk keponakannya.       

Kecintaan dan obsesi berlebihan pada harta penyebab kita sibuk membandingkan diri kita dengan orang lain. Lalu merasa merasa kekurangan dan minder ketika jiwa selalu mendongak pada yang lebih berpunya.  Lupa pada fakir miskin dan anak yatim. Saat para istri masih bisa menuntut pada suaminya, banyak sekali janda miskin papa yang kebingungan dengan kelanjutan hidup anak-anak yatimnya. Saat tunggakan spp anak belum terbayar, masih banyak yang tak berfikir sekolah karena lambungnya tak terisi seharian.

Ruslan dan aku berpandangan secara bersamaan, kami teringat Slamet, anak yatim teman bermain waktu kecil. Slamet tak bisa berlari cepat mengejar dua koboi kecil -aku dan Ruslan- karena kakinya kecil sekali terlalu lama didera busung lapar. Ruslan lalu bercerita bahwa Slamet sudah meninggal karena penyakit parunya tak terobati. Tiba-tiba air mata dua mantan koboi kecil menetes perlahan. “Yah ternyata masih banyak yang lebih susah dan aku belum gagal..”, senyum Ruslan merekah.  Hari itu baru kusadar hidung Lu’ ternyata bangir bagus sekali… =

Last Updated ( Tuesday, 27 January 2009 )
 
< Prev   Next >
Polls
MENGAPA ANDA MENGAKSES WEB KAMI?
 
Mengapa anda berzakat ke sebuah LAZ tertentu?
 
aksi_4