|
Written by NZ
|
|
Tuesday, 27 January 2009 |
Seorang perempuan tua dengan tangan bergetar tengah berusaha menyelimuti suaminya yang tergolek lemah dan kedinginan di bawah sebuah tenda darurat korban gempa. Kerut tua di dahi perempuan berusia lebih dari delapan puluhan itu seperti sebuah rekaman kegetiran hidup yang menemaninya hari demi hari. Gempa dengan goncangan 6,2 skala Richter telah meluluh lantakkan rumah Mbah Solikah, demikian perempuan tua itu biasa disapa. Termasuk bangunan sekolah dan rumah-rumah tetangganya di desa Srihandono, Kecamatan Pundong, Bantul, Yogyakarta.
|
|
Last Updated ( Tuesday, 27 January 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by NZ
|
|
Tuesday, 27 January 2009 |
seorang menepuk bahu dari belakang dengan keras, lalu memelukku erat-erat..Belum hilang rasa kaget lalu kata-katanya meluncur deras, “Waduh sudah lupa sama temen ya..hebat kamu sekarang..mobilmu bagus, Enaknya kalau sudah sukses..”. Ruslan teman bermain waktu kecil tiba-tiba muncul mengagetkan. Setengah tak percaya melihat sosok sahabat lama tak jumpa. |
|
Last Updated ( Tuesday, 27 January 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|
Written by NZ
|
|
Tuesday, 27 January 2009 |
Unus, Masnah, Maemunah, Udis, bukan hanya empat bersaudara anak-anak miskin biasa. Unus dan adik-adiknya adalah potret anak-anak yatim negeri ini. Unus bersandar di betis ibunya saat adik-adiknya saling berebut ayunan karung bekas yang diikat tali lusuh ke dahan meranggas di depan rumah mereka. Sebenarnya lebih tepat disebut bilik daripada sebuah rumah. Beratap potongan asbes dan genteng tak utuh disana-sini. |
|
Last Updated ( Tuesday, 27 January 2009 )
|
|
Read more...
|
|
|